Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Google Sandbox


Google lagi marah kepadaku. Marah berat. Sebagian besar postingan blogku diambil dan dimasukan ke kotak pasir alias Google Sandbox. Sedih rasanya dan hanya bisa menangis sehari semalam hingga mataku bengkak-bengkak segede buah jeruk. 

"Dasar blogger Guoblok !!! Mungkin itu kata google.

Saya mencoba bertanya-tanya apa salahku dan apa dosaku ? Apakah karena saya telah mengubah template, melakukan banyak ping, mencari backlink yang salah atau karena mencoba optimasi blog secara berlebihan dengan mengikuti petunjuk-petunjuk pada senior di internet yang akhirnya menjerumuskan. Sumpah, saya tidak bisa menemukan jawabannya secara pasti. Benar apa kata Google, kalau saya memang blogger guoblok, kacangan, amatir ! 

Saya berniat protes sama Larry Page, kenapa anak buah dan mesinya tega kepada saya. Saya mencoba telepon  ke rumahnya di Palo Alto, California kata pembantunya lagi main golf. saya menghubungi melalui Whatsapp tidak dibalas. Ada yang tahu Pin BB-nya ?

Lusa saya akan telpon Menteri Kominfo, Pak Tifatul Sembiring untuk memediasi permasalahan ini. Harusnya hari ini saya teleponya, tetapi saya yakin Beliau lagi capek dan kepikiran karena diprotes sana-sini masalah pemblokiran situs Berbagi Video Vimeo.

Kalau tidak ada solusi yang baik antara saya dan Larry Page, maka saya akan lapor kepada Pak SBY, mumpung masih jadi Presiden. Saya tidak sabar kalau harus menunggu presiden baru entah Pak De Jokowi atau Pak De Prabowo.

Siapa yang gak sedih coba, kalau postingan tiba-tiba lenyap dari google. Kalau gak percaya silahkan ketik ulr berikut di Http Bar Google-  site://ceritajengyuni.blogspot.com , maka postingan blog saya tidak muncul sama sekali. Duh Sedihnya saya !

Hari ini, Google Marah Padaku !

21 komentar

Ilustrasi Kompas
Credit Photo

Pernahkan kita bertanya, apa sih yang sebenarnya membuat hidup kita berarti di dunia ? Tidak salah apabila jawabannya adalah kekayaan, jabatan, kehormatan dan kesehatan. Itu manusiawi sekali. Sebagai manusia pasti berharap itu semua.

Sedikit berbeda dengan kebanyakan orang, saya masih saja meyakini bahwa hidup menjadi berarti ketika kedua orang tua masih menemani hari-hari saya. Bisa mengabdi dan membahagiakannya. Rasanya itulah yang membuat saya berharga sebagai manusia. Sayang sekali, kesadaran itu muncul terlambat. Saya begitu menyesal, sangat menyesal !    

Ayah ! Seminggu sebelum waktu yang telah ditetapkan-Nya, saya masih melihat senyum diantara guratan-guratan wajah yang sudah menua. seperti biasa, saya menanyakan bagaimana kesehatan ayah. Ayah tersenyum seolah melupakan rasa sakit yang dideritanya. Bahkan, meminta dipijat kaki dan tangannya. Juga minta dicebokin.  

Sudah sekian lama ayah sakit. Sebelum sampai parah, masih saja dipaksakan untuk bekerja. Berbagai macam komplikasi penyakit telah membuat ayah semakin lemah. Hypertensi, gula darah dan tumor hati begitu kata dokter. Saya tidak bisa langsung menjaga dan merawat ayah karena harus ikut suami. Adek dan ibulah yang merawat. Seminggu sekali saya sempatkan menengok beliau. 

Sebagai seorang anak, saya inginnya berbakti. Saya sering membujuk ayah tinggal bersama. Tetapi ayah lebih memilih untuk tinggal dirumah sendiri. Demi Allah, saya dan suami sesungguhnya senang bila ayah mengiyakan ajakan saya itu. 

Empat hari sebelum kembali ke haribaan-Nya, ayah mengunjungiku. Ayah minta di masakan sayur lodeh. Saya melihat ayah begitu lahap menyantap sayur lodeh di temani cucunya, Arya, yang kala itu masih berumur 4 tahun. Saya menyembunyikan air mataku karena rasa senang dikunjungi ayah. Tak disangka itulah kunjungan terakhir ayah untukku. 

Kamis siang jam 12.00, adek menelponku, "Mbak, ayah kritis !". Ya Allah, aku menjerit dan menangis seketika. Saya langsung menelpon suami minta ijin untuk sesegera menjenguk ayah sendirian dan suami berangkat dari tempat kerjanya. 

Perjalanan sampai ke rumah Ayah membutuhkan waktu hampir satu jam dan harus berpindah mobil omprengan dua kali. Waktu serasa berjalan melambat, sangat lambat. Saya tidak mungkin memaksa sopir menuruti kehendakku dan mengorbankan penumpang-penumpang lain.  

Saya berdoa sebisa-bisanya sepanjang perjalanan yang serasa lambat itu. Ya Allah, tunda dulu engkau mengambil ayahku hingga aku bersimpuh dikakinya dan meminta maaf atas segala salah dan khilafku selagi ayah masih bisa mendengar. Itu pintaku ! 

Setengah jam berlalu, Selulerku kembali berbunyi lagi. "Mbak, Ayah wis ora ono ( Ayah sudah tidak Ada)", Kata adekku diujung telpon. Aku menangis tertahan diantara penumpang omprengan yang berdempet-dempetan. Sesampainya dirumah, saya langsung memeluk jasad ayah dan menangis sejadi-jadinya. Mohon ampun atas segala kesalahan dan kekhilafan kepada beliau. Saya sadar bahwa selama ini belum pernah bisa membahagiakannya. Walaupun tidak tidak sekelipun ayah memintanya. 

Sepertinya Allah telah memberikan firasat sebelumnya. Sayang sekali, karena kedangkalan pemahaman saya tidak bisa menangkapnya secara sempurna. Permintaan ayah untuk dipijat, dicebokin dan dimasakkan sayur lodeh menjadi permintaan terakhirnya kepada saya. Seolah ayah mau bilang, "Ayah sudah menerima pengabdian dan balas budimu sebagai anak, nduk. Iklaskan ayah." Semoga seperti itu adanya.

Saya seperti tidak berharga. Karena belum bisa membuat ayah bahagia. Bahkan di saat ajal menjemput pun tidak disampingnya. Andai saja Allah menginjinkan untuk meminta satu permintaan, maka saya pasti meminta Allah mengembalikan ayah dan kesehatannya. Walaupun nyawaku sebagai tebusannya. Saya rela !     

#MenjelangMendakKeduaAlmAyah
#Jangansiasiakanorangtuakitaselagibisa


Permintaan Terakhir Seorang Ayah

8 komentar

Cinta Seorang Ayah
Ayunda Bermain Dengan Papanya

Papa begitu marah ketika mama bilang hamil lagi ketika itu. Mama menyadari, itu karena Papa begitu sayang dengan Si Sulung Arya. Hingga Papa tidak ingin membagi cinta papa ke Arya dengan yang lain.  

Bahkan ketika putri kita lahir pun eyang kakungnya yang memberi nama, Ayunda, bukan papa! Sampai Ayunda berumur 3 tahun, Papa masih tak acuh dengannya. Demi Tuhan mama tidak menyesal, Pa. Mama lakukan karena mama cinta Arya dan Papa. Mama tidak ingin Arya tumbuh tanpa saudara dan kita kesepian di hari tua. 

Suatu ketika, Papa menangis dan memeluk erat saat Ayunda tergolek lunglai di rumah sakit dengan selang infus di tangan. Sejak itu, setiap saat yang papa tanyakan hanyalah Si kecil Ayunda.  

Foto ini kita buat seminggu setelah Ayunda sembuh. Monumental sekali, bukan?. Ekspresi cinta dan ketulusan seorang ayah kepada putrinya tergambar di sana.   


 photo lombablogcintamonumental_zps3ade6cd6.jpg
“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS” 

Ketulusan Cinta Seorang Ayah

23 komentar

Ketemu teman semasa es-em-a yang sudah sukses sore tadi menjadikan motivasi diri untuk mengikuti jejaknya. Sebut saja namanya Emak Ninik. Saya masih ingat betul masa-masa jadul disekolah dulu (SMA 2 Brebes). Tapi siapa yang bisa menduga, takdir telah menitipkan segenggam kesuksesan untuknya. Tanpa harus mengubah tabiat dan kerendahan hatinya.

Jus alpokat dan sepiring camikan ringan menjadi pelengkap kangen-kangen ini. Sesekali saya menyeka air mata menyimak cerita jungkir baliknya dia pada saat-saat awal mendirikan usaha catering.  Bagaimana dia harus "menyiksa diri" bangun jam 2 malam, menyalakan tungku dan memulai proses memasak, disaat sebagian orang masih terelap dalam dunia mimpi yang berwarna warni. Setelah jadi, makanan harus diantar kepada pemesan dengan menggunakan sepeda motor yang telah dipasang dua kerangjang, kanan dan kiri. Kebetulan suaminya bekerja di luar kota, jadi semua hal harus dilakukan sendiri. 

Emak Ninik juga bercerita, bagaimana dia harus menjual cincin perkawinannya untuk memulai bisnis catering ini. Bahkan terpaksa berurusan dengan bank karena rumah yang mereka tempati menjadi jaminan untuk mendapatkan sejumlah modal. Bak cerita sinetron, apa yang telah diperjuangkannya telah terbalas sekarang dengan usaha cateringnya yang semakin besar dengan omset ratusan juta per bulan. 


Dibalik apa yang telah diceritakan Emak Ninik, ada satu hal yang menggocang jiwa saya. Apakah itu ? Emak Ninik bilang bahwa hidupnya hanya berhak atas 97.5% saja. Dia tidak mau serakah dan menganggap bahwa semua bisa dimilikinya. "Tidak !" Ucapnya bersemangat. Sejak awal Emak Ninik menjalani bisnis catering ini, dia sisihkan 2,5% dari hasilnya untuk diserahkan kepada orang-orang miskin di lingkungannya sebagai zakat. Subhanallahh ! 

Seperti menampar wajah saya penuturan Emak Ninik ini. Saya jadi teringat kata bapaknya anak-anak, yang selalu "memaksa" saya untuk melakukan itu setiap awal bulan setelah menerima gaji. Ampuni hambamu ini Ya Allah, kiranya hamba kadang lalai menunaikan hal itu. Betapa dahsyat manfaatnya. 
Hari ini aku telah belajar hidup dari orang yang telah mengubah hidupnya dari getir menjadi manis, Emak Ninik ! Terima kasih Mak, telah menyadarkan aku.

#Oleholehkangenkangenan      

      

Kita Hidup Untuk 97,5%, Sisanya ?

2 komentar

Ilustrasi Emak Jualan
Credit Ilustrasi

Setengah hari ini untung berapa dari menjual Es Susu? 15 ribu rupiah. Alkhamdulillah. Senang sekali rasanya memulai bisnis direct selling seperti ini. Bisnis sampingan sebagai penjual es susu memanfaatkan waktu senggang setelah "ngojek" anak ke sekolah. 

Semula hanya iseng saja tetapi akhirnya membuat ketagihan. Malah berniat untuk saya tekuni dengan menaikan status sebagai distributor. Apa yang membuat ketagihan? Adalah waktu yang dibutuhkan hanya maksimal 30 menit menemui anak-anak SD yang olah raga dilapangan. 

Sebagai seorang emak atau ibu rumah tangga, saya menyadari bahwa roda ekonomi keluarga harus berjalan. Kebutuhan semakin hari semakin banyak dengan harga-harga yang terus melambung. Rasanya terlalu kasihan kepada suami menanggung beban sendiri dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Kebetulan sekali suami mendukung dan berharap bisa besar nantinya. 

Beberapa tetangga sempat bertanya ke saya, apa gak malu jualan es dipinggir lapangan, kan sudah punya dagangan sembako dari beras hingga kecap dan pelanggan? Ah, saya tidak mau lebay dan terjebak pada kata malu, gengsi dan sejenisnya. Saya juga tidak mau terjebak pada status sebagai ibu rumah tangga semata yang konon hanya bisa "krido lumahing astho" alias menadahkan tangan menerima penghasilan suami di awal bulan. 

Jaman bisa berubah kapanpun juga tanpa kompromi. Status sebagai karyawan swasta yang disandang suami bisa terhenti seketika entah karena kebangkrutan perusahaan atau karena masa produktif suami dianggap sudah tidak ada dan perlu diganti dengan karyawan baru yang lebih fresh. Saya tidak berharap ini terjadi, akan tetapi siapa yang tahu ?  

Maka, karena roda ekonomi keluarga harus berjalan, saya mengesampingkan idealisme, rasa malu, gengsi, status pendidikan. Saya lebih cenderung berfikir seperti orang lulusan SD yang melakukan bisnis dengan cara nekat dan berani mengambil resiko. Intinya adalah kebutuhan keluarga tercukupi.

Apakah kalau kita tidak bisa makan, tetangga akan serta merta memberi makan dan menghidupi kita ? Kalau toh pun itu benar, maka paling hanya sehari dua hari. Selanjutnya ?

Saya berfikir realistis !

#PostedviaEmaildariPinggirLapangan


Haruskah Memupuk Gengsi Karena Menjadi Emak?

4 komentar
Cara Mendidik anak
Credit

Namanya juga anak-anak, kalau memang nakal adalah hal yang biasa. Anak-anak belum bisa berfikir ala orang dewasa. Pemikirannya simple dan sesaat sesuai dengan tingkatan nalarnya. Apa yang biasa disebut nakal pada anak-anak memang membuat orang tua terkadang jengkel dan marah. Pada titik kejengkelan tertentu, orang tua sering berbicara keras atau membentak anak. Atau bisa-bisa memukul pantat atau bagian tertentu dari anak. Dalam kasus tertentu orang tua bahkan sanggup membunuh anak sendiri karena amarah dan jengkel. Naudzubillah !

Membentak anak atau memukul anak ketika orang tua merasa jengkel dengan tingkah laku anak, secara psikologis berdampak buruk. Ini akan meninggalkan traumatik yang mendalam dalam diri anak. Masa anak-anak itu masa-masa meniru (imitasi) oleh karena apa yang dilakukan oleh orang tua kecenderungan akan ditiru anak. Hal inilah yang akan meninggalkan jejak traumatik tersebut dan bisa menjadi gunung es bagi anak kelak ketika sudah dewasa. Anak cenderung menjadi temperamental kalau menghadapi masalah-masalah serta mengcopy paste apa yang orang tuanya ajarkan dan lalukan kepadanya dulu.

Memberi pengertian anak juga tidaklah mudah. Tingkat pengertiannya yang masih rendah, menjadi hambatan untuk memahami hal-hal tertentu. Mari kita pahami hal ini. Cukuplah bersabar, kendalikan emosi diri atas kenakalan anak. Biarkan sesaat dalam kenakalannya, kenakalan anak itu berarti proses perkembangan jiwanya berjalan. Tarik ulurlah, "ajak berdamai" dengan bujukan-bujukan kecil untuk menenangkannya.

Kenakalan anak kita, itu yang akan kita ridukan ketika mereka dewasa. Bahkan mungkin kelak kita berharap kembali pada masa dimana anak-anak kita nangis merajuk meminta sesuatu atau bertengkar dengan saudaranya dan teman bermainnya.



Hati-Hati Bila Anak Nakal, Kendalikan Emosi Emosi Anda

8 komentar

ilustrasi cinta
Credit
Dulu waktu di kampus, banyak mahasiswi cantik yang mestinya bisa engkau pacari. Banyak juga adek-adek tingkat yang manis-manis dan mudah engkau dekati lalu kau miliki. Tapi kenapa engkau memilih aku, mahasiswi yang biasa saja yang mungkin tidak masuk hitungan untuk menjadi kekasihmu.

Aku nyaris tak percaya, ketika engkau menggandengku erat-erat, menyusuri jalan kampus Fakultas Sospol Universitas Jember. Jalan itu seperti panjang sekali, ratusan meter dari perpustakaan rektorat. Kita kecapaian, akhirnya duduk di sebuah bangku batu tepat di bawah pohon cemara yang berdaun jarang. Disekitar nampak remang dalam cahaya bulan malam ke 26 dibulan Agustus, 17 tahun lalu.

Aku hanya terdiam. Sepertinya merasa bahagia ketika engkau masih menggenggam tanganku dan mengatakan,"Dik, aku sepertinya jatuh cinta kepadamu. Maukah engkau menjadi pacarku?". Oh, aku malu saat itu. Tetapi aku yakin engkau tahu jawabanku karena aku tidak berusaha melepas peganganmu.

Sedetik aku seperti terbuai dengan kata-kata itu, setelahnya itu engkau mencium bibirku. Sejenak kemudian engkau bilang kepalamu pusing, mungkin karena lipstiku. Sumpah! Itu membuatku malu karena aku tidak pernah melakukan hal itu. Itu yang pertama kali. Tapi apa dayaku, aku terlanjur terbuai bahagia, anganku melambung tinggi seperti anai-anai yang keluar dari sarangnya. Terbang berpencar kesana kemari.

Lalu, hari-hari kita lalui bersama setelah itu. Benar-benar tak terpisahkan melewati suka dan duka. Pernah engkau mengantar nasi bungkus dengan lauk pindang goreng ke kostku yang berjarak 3 km dari kostmu. Lalu aku tanya, kenapa jalan kaki kok tidak naik bis kampus? Aku kaget sekali ketika engkau bilang tidak pegang uang. Lalu aku tanya, lho, nasinya dibeli pakai apa? Aku juga terhenyak mendengar jawabmu. Engkau bilang hutang di warung depan kost. Oh, sampai segitu pengorbananmu, hanya demi mengantar sebungkus nasi engkau melakukan itu. Aku menangis sesenggukan dikamar sepulangmu.

Terima kasih. Nasi bungkus itu menolong laparku yang sedari siang belum terisi selain air putih dan jambu biji yang ada di depan kost. Kiranya engkau tahu, akupun saat itu tidak memegang uang barang serupiahpun. Wesel dari ibu tak kunjung datang.

Banyak cerita yang telah kita buat bersama. Tak terhitung juga seberapa jauh kita melewati jalan-jalan untuk sekedar menghibur diri di alun-alun kota Jember, melihat lalu lalang mobil dimalam hari. Ataupun, jalan-jalan di pusat perbelanjaan melihat tas, baju, kaos yang juga tidak pernah terbeli.

Aku tahu kemampuanmu dan aku tak memaksakan apapun kehedakku. Aku cukup bahagia, ketika engkau belikan vas bunga seharga sepuluh ribu di penjual emperan depan Mall Sumber Mas. Kau isi vas itu dengan setangkai edelweis kering, oleh-oleh teman Mapala dari Gunung Bromo. Itu hadiah ulang tahunku.

Tak tergambarkan lagi betapa banyak peristiwa yang kita lalui berdua. Hingga engkau menepati janjimu. Tepat ditahun dengan angka kembar, 2002, Engkau menikahiku ! Hingga tak terasa sudah 12 tahun sudah kisah cinta itu.

Aku sering terharu bila mengingatnya. Kelak akan aku ceritakan perjalanan cinta itu kepada putra-putri kita ketika dewasa. Bagaimana dulu ayah ibunya bertemu dan menjalani hidup. Agar mereka semakin bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya.

Suamiku ! Aku ingin 1000 tahun lagi bersamamu !

 


Cinta Untuk 1000 Tahun lagi

0 komentar
Bisnis Jilbab

Saya pernah membaca sebuah buku motovasi bisnis bahwa setiap tren baru berpotensi menghasilkan uang. Bagaimanakah caranya yakni dengan mempelajari "bisnis"-nya. Berangkat dari hal itu, saya jadi tergerak untuk membuktikan.

Berjalan-jalan di Pasar Kliwon Kudus secara tak sengaja melihat banyak model produk Jilbab. Walaupun jilbab tidak bisa dikategorikan sebagai produk baru lagi, akan tetapi inovasi jilbab telah memunculkan tren-tren baru dimasyarakat terutama untuk perempuan, apakah itu difungsikan hanya sebagai fashion semata atau memang mejadi kebutuhan menutup aurat yang sesungguhnya.

Saya akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa puluh jilbab tersebut dengan maksud saya jual kembali ke ibu-ibu PKK dirumah Jogja. Saya memilih dua jenis model yakni klasik dan jilbab modifikasi. Walaupun trend jilbab sekarang disebut model pashmina, akan tetapi saya juga membeli yang model klasik, karena biasanya lebih abadi dibandingkan dengan yang modifikasian.

Sepulang dari pasar, saya buka bungkusan jilbab tersebut diteras rumah untuk repacking agar tidak menyita space dimobil, maksud saya. Eh, tetangga-tetangga melihatnya dan malah berdatangan untuk meilihat dan mencoba-coba. Alkhamdulillah, akhirnya malah membeli. Laku deh beberapa jilbab tersebut sebelum sampai dijogja.

Nah, saya mencoba menafsirkan kata mempelajari "bisnis-nya" jilbab tersebut, dengan memberanikan diri mengeluarkan sejumlah uang untuk "kulakan" dan memanfaatkan kecenderungan tren baru tentang jilbab. Selanjutnya mungkin membuat showcase kecil-kecilan disudut rumah. Semoga tidak salah !

#Posted by email bia Blackberry


Trend Berbisnis Bagi Emak-Emak

0 komentar

Coba tebak, menurut anda ini tanaman bunga apa? Betul! Ini bunga melati putih. Tetapi berapa umur tanaman bunga melati ini menurut anda? Setahun, dua tahu, atau...?

Ada sejarah menarik sekaligus sebuah misteri pada bunga melati tersebut. Bunga melati ini ditanam di halaman rumah keluarga mertua di Kudus. Bibit awalnya dari Brebes. Jauh sekali sebelum kami menikah. Saat itu masih kuliah dan pacaran begitu.

Dari hanya sebuah bibit kecil sekarang sudah mempunyai batang dan akar yang besar. Pernah sampai tinggi hingga 3 meteran, dengan rantingnya yang melilit pohon klengkeng disebelahnya. Nah, kejadian mistisnya berawal dari sini.

Mengingat daunnya sudah rimbun, maka adek ipar laki-laki yang nomer dua bermaksud memotongnya agar rapi. Sebut saja namanya Dek Pur. Daun melati itupun dipangkas hingga pendek tetapi tetap berbunga pada waktu-waktu tertentu.

Karena batangnya saat itu masih kecil dan belum terlalu kuat, suatu ketika patah karena kejatuhan ban truk kepunyaaan adek ipar yang nomer 3, dek Heriyanto. 7 hari setelah patahnya pohon melati itu, keluarga sedang mengadakan acara kirim doa 1000 hari meninggalnya Almarhum bapak (mertua), semacam tahlillan begitu.

Pada saat acara tahlilan berlangsung tidak terjadi kejadian apa-apa. Lancar-lancar saja. Para Tetangga yang diundang pun dengan khusuk mengikuti acara ini. Seealah satu jam, Pak kyai menutupnya dengan do'a seterusnya acara santai ngobrol sambil menikmati hidangan ala kadarnya.

Tak sampai 30 menit, akhirnya para tetangga mulai berpamitan satu persatu. Tersisa beberapa orang yang duduk-duduk santai diteras rumah sebelah kiri. Mereka adalah teman-teman sekantor Dek Pur. Kebetulan memang datang untuk ikut serta dalam acara tahlillan tersebut.

Saya bersama adek-adek yang lain merapikan dan membersihkan ruangan yang habis dipakai untuk acara tahlilan tadi. Sepertinya saya mendengar suara memanggil-manggil dari dalam rumah.

"Pur, Pur..." Begitu suara tersebut terdengar agak sayup-sayup. Tapi sepertinya bukan suara ibu yang sedari tadi leyehan dikamar belakang atau suara orang-orang rumah lainya yang aku kenal. Saya mengabaikan suara itu, ah..barangkali suara TV di ruang tengah pikirku. Aku masih repot merapikan tikar, gelas dan piring-piring.

Sejurus kemudian, ibu berdiri dipintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Dengan berpakaian daster berwarna ungu, tangan ibu menghalau kelambu pintu dan memanggil sedikit agak keras.

"Pur...." Begitu yang terdengar. Saya kaget kok suara ibu setengah suara laki-laki dan agak parau. Ada yang ganjil pikir saya.

Dek pur yang lagi asik ngobrol dengan teman-temannya akhir menjawab panggilan dan mendatangi ibu yang masih berdiri dipintu tengah.



"Inggih..." Jawab dek Pur sambil berdiri menghampiri ibu 
"Diundang bolak-balek kok ora semaur (Dipanggil berulang-ulang kok tidak menjawab)" Kata ibu.
"Mboten mireng, tasih njagongi tamu, mam (Tidak mendengar, masih menemani tamu, mam) " Kata dek Pur.



Saat itu dek Pur masih belum curiga atas keganjilan yang terjadi. Dek pur baru tahu ketika ibu atau siapun yang masuk ketubuh ibu marah-marah gak jelas.



"Ono opo mau kok ramai-ramai, hah! Sopo sing mateni kembang mlati kuwi. Sopo ?(Ada apa ini kok ramai-ramai, siapa yang membunuh bunga melati itu, siapa?)" Katanya sambil menuding-nuding kearah bunga melati yang hanya berjarak 10 meteran dari tempat ibu berdiri.



Dek Pur baru paham kalau ibu sedang mengalami kesurupan. Maka setelah "uluk salam" atau memberi salam, tubuh ibu dibimbing ke kursi yang sudah tertata di ruang tamu sebelah kiri.

"Niki sinten nggih, kok dateng-dateng ngamuk, karepe dos pundi - (ini siapa ya, kok datang-datang marah, maunya gimana)?

"Ora usah ngerti aku kowe, durung wayahe. Sopo sing mateni mlati kuwi-(tidak perlu tahu saya kamu, belum saatnya. Siapa yang membunuh bunga mlati itu)?

"Oh inggih mboten nopo-nopo, kembang mlati punika pejah mboten dipun jarak Ketiban roda ban mobile trukipun adek - (O ya gak apa-apa. Kembang melati tersebut mati tidak disengaja kejatuhan roda ban truknya adek.") Jawab dek Pur.

Saya yang sedari tadi melihat kejadian tersebut geser sedikit minggir menjauh karena takut.

"Sesuk kudu ditandur maneh, ojo nganti mati. Trus, kowe tak dongakno kuat murwat, sugih lan gampang golek sandang pangan. Akeh-akehi dongo karo sholate ojo ditinggalno - (besok harus ditanam lagi, jangan sampai mati. Trus, dirimu (dek pur) saya do'akan bisa berhasil, kaya dan mudah mencari rejeki. Dibanyaki berdo,a dan jangan meninggalkan sholat."). Begitu kata sesuatu yang merasuk ketubuh ibu.

"Wis, dinget-inget omonganku. Aku pamit disik, assalamu'alaimu ! (Sudah, dingingat-ingat saja omongaku, aku pamit duku, assalaumuk'alaikum.") Setelah itu tubuh ibu seperti doyong ke depan kearah pohon melati. Saya spontan sigap memegang tubuh ibu.

Siapakah sosok yang merasuki ibu?

Saya masih inget betul, dulu almarhum ayah mertua saya pernah bilang kalau di bunga mawar itu merupakan pintu gerbang menuju "kerajaan ghaib". Kalau begitu saya yakin sekali berarti yang merasuk ditubuh ibu mertuaku adalah dari golongan Jin Muslim yang entah dimana tempatnya. Bukan dari golongan malaikat atau yang lain.

Terlepas kisah misteri yang terjadi dan menyertainya, pohon melati itu seperti pohon cinta abadi bagi saya, yang mengikat dua keluarga (kudus dan Brebes). Pohon itu sudah berumur 17 tahun hingga saat ini dan masih berbunga pada saat tertentu.

#posted by email via Blackberry

Kisah Misteri Pohon Melati

0 komentar

Pahlawan dalam Keluarga
Siapa yang Photo Hayo?

Kelak jalanan itu akan menjadi saksi. Setiap tikungan yang terlewati menjadi sejarah. Jalan dan tikungan yang terlewati dalam menjalani profesi sebagai "tukang ojek" mengantar buah hati  ke sekolahnya. Profesi baru semenjak anak-anak memasuki dunia sekolah, selain profesi tetap sebagai ibu rumah tangga. Sebuah profesi yang penting dalam perkembangan si buah hati. 

Insya Allah, 20 Tahun lagi dari hari ini, jalanan, tikungan dan apapun yang ada disitu akan berkata "selamat ya, atas keberhasilan dan kesuksesan si buah hati"  Ah, sepertinya itu yang menjadi "bayaran" setiap tukang ojek seperti saya. Hem,...masih beruntung sepertinya bagi anak-anak jaman sekarang, dibandingkan masa-masa bapak-ibunya dulu, dimana pergi ke sekolah harus jalan kaki berkilo-kilo. Atau naik angkutan "bis tuyul" bagi yang uang sakunya cukup. 

Saya menikmati sekali kesempatan ini dimana tidak semua ibu mampu dan mau melakukannya. Saya tidak terjebak pada pragmatisme hidup sebagai wanita karier dimana karena kesibukan harus menyerahkan hidup anak dan keluarga pada sosok pembantu. Hidup cuman sekali dan paling lama mungkin 100 tahun. Jadi, saya ingin menjadi sosok ibu yang sejati. Menjadi pahlawan bagi keluarga. Itu saja. !

Saya menunggu, kelak putra-putriku akan mengajaku melewati jalan itu kembali dengan suka cita. Dan akan aku ceritakan kembali bagaimana saat dulu untuknya.

  

Tukang Ojek Ini Pahlawan Bagi Keluarga

3 komentar

Ayunda Berjilbab


Tiada kata yang dapat mewakili kebahagiaan ini, saudara. Selain memanjatkan Puji syukur, Alkhamdulillah bahwasannya apa yang terjadi itu berkat rahmat-Nya semata. Ayunda yang masih duduk di TK Nol besar akhirnya telah mengkatamkan Al-qur'an pada hari minggu malam senin (12/4). 

Bagi sebagian orang ini mungkin menjadi hal yang biasa saja. Akan tetapi tidak bagi saya dan keluarga. Kenapa demikian ? Karena pada saat saya seumuran Ayunda tidak menemui pengalaman seperti ini. Bahkan belum bisa mengkhatamkan Al-qur'an saat itu. 

"Pa, adek udah khatam Al-Qur'an"  kata Ayunda. Disamping Papanya yang masih bergelut dengan komputer. Aku peluk, aku sayang-sayang, aku cium kedua pipinya. 

"Selamat ya sayang, minta hadiah apa, sayang" Tawarku yang mencoba menyenangkan hatinya.

"Entar dibeliin crayon sama buku gambar aja ya, Pa" Katanya manja. Permintaan yang begitu sederhana yang membuat saya bangga. 

"Adek boleh telpon utik ya, pa?" sambung Ayunda. Dibantu mamanya Ayunda pun meraih gagang telpon dan mulai cerita ini dan itu kepada utiknya yang ada di Brebes.

Terdengar permintaan, bahwa Ayunda ingin utiknya ke Jogya saat wisudanya nanti, karena ingin utiknya mendampingi penerimaan pialanya  Oh, sekali lagi sebuah permintaan yang sederhana. 

"Yeee....benar ya utik, nanti mbak meilin di ajak." Rayu Ayunda lagi. Meilin adalah putri paling buncit dari kakak istri. Dan Ayunda memang sayang sama Meilin. 

Papa dan mama bangga padamu Cah Ayu. Semoga kelak engkau menjadi anak yang Sholehah, tetap dalam jalan Iman dan Islam, berhasil kehidupanmu, selalu di Ridloi Allah dan Selamat dalam kehidupuan dunia-akhiratmu. Amien.

 Kebahagiaan orang tua itu Sederhana, Bila anak berhasil dalam hidupnya. Patuh dan Taat, serta tidak memaksakan diri diluar kemampuan orang tuannya.   

Inspired by Papa..

Akhirnya Khatam Al-Qur'an

0 komentar

Kayla Ayunda Narapramesti

Siapakah Ayunda? Gadis kecil berparas cantik ini masih belajar di bangku Taman Kanak-Kanak. TK Al-Amien Kadisoka Kalasan Sleman Yogyakarta. Tahun ini adalah tahun terakhir baginya, karena Insya Allah tahun depan sudah lulus dan melanjutkan ke Sekolah Dasar.

Satu hal yang membanggakan dari Ayunda adalah dia menjadi idola dan siswa paling favorite di sekolahnya. Banyak guru yang bilang kalau Ayunda itu anak yang "ngemong" sama teman-temannya. Suka menolong dan melindungi adik kelasnya. Ayunda sangat rajin kalau disekolahnya. Sepertinya berbeda bila dirumah. Sifat kekanak-kanakannya terlihat sekali kalau dirumah. Bertengkar dengan kakaknya, rebutan remote TV, menangis dan manja menjadikan rumah seru dan ramai. Satu hal yang pasti akan dirindukan kelak bila mereka sudah menginjak dewasa.

Selepas magrib, ayunda belajar mengaji sama mamanya. Tak terasa sekarang sudah hampir khatam. Insya Allah Juz 30 akan diselesaikannya dalam minggu ini. Ayunda ingin mendapatkan dua piala dalam wisuda TK nantinya, yakni sebagai siswa berprestasi terbaik dan salah satu siswa yang telah khatam al-Qur'an.

Yah, Kayla Ayunda Narapramesti, begitu dulu kami menamainya. Sebuah nama perpaduan jawa dan sanksekerta yang berarti seorang ratu perempuan cantik dan berbudi luhur. Pelipur lara dan pelengkap kehidupan kami.

Dicopy dari om-rhomairamin.blogspot.com

Ini Tentang Ayunda

0 komentar

juara 1 hafalan al quran


{وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى}
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” 
(QS an-Najm:39).

Dua orang MC lomba yang cantik dengan jilbabnya berdiri ditengah panggung (Semoga Istriku gak cemburu aku memuji Wanita lain). Uh..suaranya begitu merdu di telinga. "Adik-adik, saatnya kakak umumkan lomba ya." Katanya saat memandu acara kembali setelah terpotong oleh aksi pentas anak-anak TK yang polos dan lucu.

Saya bergegas mendekat panggung melewati kumpulan orang tua murid yang menunggu hasil jerih payah putra-putrinya mengikuti lomba. Wajah istriku yang duduk ngengsot ditikar depan panggung kulihat sedikit tegang. Entah apa yang dipikirkannya. Sepertinya berharap sekali Ayunda menang. Maklum saja dialah yang dengan sabar mengajari dan membimbing Ayunda belajar setiap harinya. Padahal saya selalu menasehatinya, bahwa dalam sebuah kompetisi harus siap menang juga harus menyiapkan mental kalau kalah. Biar 'gak stress seperti para caleg yang gagal itu. :)

Sejurus kemudian, dua MC cantik tersebut membacakan hasil lomba, diawali lomba yang pertama yakni lomba Wudhlu. Kebetulan sekali setiap peserta hanya boleh mengikuti satu lomba saja jadi Ayunda pun terpaksa mengikuti aturan tersebut, walaupun maunya ingin mengikuti semua lomba yang diadakan. Namanya juga anak-anak, kan.

Berturut-turut kemudian adalah pengumuman lomba mengancingkan baju dan puzzle. Setelah rangkaian acara penyerahan hadiah kedua lomba tersebut berakhir, tiba saatnya pengumuman lomba hafalan surat pendek Al-Qur'an. Aku melirik ke tempat istriku duduk. Wajahnya terlihat semakin tegang. Dag...dig...duk begitu detak jantungnya barangkali. Gak ada senyum. Wajahnya kaku memandang lurus kedepan panggung. (Kecuali kejatuhan uang satu gepok dipangkuannya barangkali baru bisa senyum kaleeeee!).

"Juara ke-3, dengan nilai 255 Jatuh kepada nomor undian 5". Kata MC. Duerrrrr.....Istriku semakin tegang dan bertambah tegang kelihatanya. Wajahnya berubah rona. Aku tersenyum geli melihatnya. 

"Selanjutnya, Juara ke-2, dengan nilai 265, adalah nomor undian 6". teriak MC lagi. Jedoooooooor...Posisi duduk istriku sedikit berubah. Dengan tangan dipangkuan dia menghela napas panjang. Kepala sedikit mengongak ke atas. Bibirnya bergerak-gerak, komat-kamit seperti mbah dukun baca mantra.  Sepertinya sedang berdoa. Entah apa yang dibacanya, apakah doa mau makan atau doa mau tidur, siapa yang tahu he..he...? 

"Dan.....Juara pertama.....dengan nilai 305 jatuh kepada nomor undian 7". Beeeetttttttt....Lega sudah! Istriku bisa tersenyum lebar dan tanpa sadar kedua tangannya mengepal keatas sambil bilang Yeeeeeeee Lumayan keras, hingga seorang ibu yang disampingnya terkaget-kaget. 

Ya, Ayunda tampil sebagai Juara Pertama lomba hafalan surat pendek Al-Qur'an untuk yang ke-sekian kalinya. Kali ini dia berhasil menyingkirkan 20 orang peserta perwakilan dari TK-TK terbaik di Yogyakarta. Ini merupakan piala yang ke-13 yang didapatkannya. 

Selamat ya Mam, telah menghantarkan Ayunda kembali jadi juara ! 

Dicopy dari om-rhomairamin.blogspot.com


Kisah Ibu dan Anak - Juara Lomba Hafalan Surat Pendek Al-Qur'an

0 komentar