Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan


Sering saya melihat kakek dan nenek berjalan berdua dengan bergandengan tangan. Walaupun usianya sudah "sepuh" tetapi saya masih melihat aura kemesraan di antara keduanya. Seperti iklan motor yamaha Touching your heart pokoknya. Sangat menyentuh.

Saya berfikir, apa yang membuat mereka saling mencinta dan tetap mesra sampai tua. Apakah hanya karena kekuatan cinta yang menghasilkan komitmen masa lalu atau karena apa. "Wis dek, pokoknya apapun yang terjadi kita selalu satu hati dan kita jalanin bersama," begitu kurang lebihnya, seperti iklan motor Honda "One Heart"

Kalau hanya karena kekuatan cinta kok sepertinya tidak. Karena cinta itu bisa saja luntur karena gerusan waktu. Coba lihat, mereka yang bercerai bukanya dulu hatinya haru biru penuh dengan cinta yang akhirnya berbuah pernikahan. Jarang pernikahan terjadi tanpa cinta di antara keduanya. Kalau masih ada, itu sebuah pengecualian dalam perspektif masyarakat saat ini. Barangkali satu di antara seribu orang.

Saya pernah bertanya pada seseorang. Sebut saja namanya Mbah Jarwo dan Mbok Sarni. Kebetulan ketemu sama kakek-nenek tersebut di sebuah warung es cendol di pinggiran jalan. Ketika saya tanya tentang apa resepnya kok bisa mesra sampai tua. Apa jawaban mereka? Kalau saya translate ke dalam bahasa Indonesia seperti ini :
"Kami telah sepakat menghormati "ikatan pernikahan". Kami telah menyerahkan diri masing-masing untuk lebur pada ikatan itu. Kami juga tidak berfikir atas perceraiaan, karena hidup cuman sekali. Kalau sudah diberi jodoh Tuhan satu ya itu sampai mati. Menerima pemberian itu dengan syukur "
Dari jawaban ini saya menyimpulkan bahwa, "Nrimo ing Pandhum" atau menerima pemberian Tuhan apapun itu dan seberapun itu disertai syukur yang menjadi prinsip Mbah Jarwo dan Mbok Sarni.

Ternyata prinsip hidup yang sederhana itu menentramkan hidup itu sendiri. Apa masih cocok prinsip tersebut diterapkan di jaman yang serba gemerlap ini ? Silahkan anda maknai sendiri. Yang pasti sudah ada contoh kehidupan itu.

Semoga saya seperti Mbok Sarni dan Bapaknya anak-anak seperti Mbah Jarwo, dapat menikmati waktu dan menanti tua bersama, setelah itu baru mati.


Menikmati Waktu, Menanti Tua Bersama

2 komentar

Foto Kenangan Bersama Ayah
Dukumen Pribadi


Ayah,
Aku ingin berkirim surat kepadamu. Menanyakan apakah Allah telah memberikan tempat yang indah untukmu, Al-Jannah yang telah dijanjikan bagi hamba-Nya yang sabar dan Ikhlas,  
Mereka (orang-orang yang sabar) itulah yang akan dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam al-jannah) dikarenakan kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. (Al Furqaan : 75)
Tahukah ayah, Kepergian ayah dua tahun lalu sungguh telah membuat aku seperti kehilangan sandaran hidup. Kehilangan jiwa dan rasa. Aku belum bisa membalas apa-apa atas kesabaran, keikhlasan dan cinta Ayah. Engkau telah menjalani kodrat hidup yang keras dan serba kekurangan tetapi tidak pernah sekalipun menunjukkan keluh pada anak-anakmu atas beban berat itu.  

Aku masih ingat ayah,
Bagaimana ayah memutuskan menjual kusi ruang tamu kayu jati berbusa merah dan almari kayu tempat menyimpan baju-baju ayah sendiri. Ayah jual semua itu untuk biaya pendaftaran ulang kuliahku di Jember. Aku mengerti, ayah tidak menginginkan anak-anaknya perpendidikan rendah seperti ayah yang hanya lulusan SR (Sekolah Rakyat). Walaupun ayah tahu, bahwa aku hanya seorang perempuan. Ayah berbeda dengan pemikiran kebanyak orang di kampung, bahwa perempuan diciptakan hanya untuk dapur, sumur dan kasur.

Ayah juga tidak mengeluh menyisihkan uang makan harian ayah untukku. Aku sangat bersyukur menerima uang 60.000 setiap bulan dari ayah. Uang yang disembunyikan dalam lipatan kertas karbon hitam bersama sepucuk surat yang berisi khabar keluarga. Bukan melalui transfer ATM atau wesel pos kala itu. 

Ayah tidak malu hutang sana-sini untuk menutup biaya lain-lain selama kuliahku. Entah berapa banyak hutang tersebut. Ayah berkeras bahwa itu sudah menjadi kewajiban sebagai orang tua. Walaupun itu harus terjadi. Ayah selalu cerita tentang keikhlasan hidup. Ayah selalu bilang bahwa Allah yang akan memudahkan jalan dan membayarnya kelak dengan cara yang indah. 

Ayah,
Aku melihat betapa ayah bangga, ketika ayah menghadiri wisudaku dulu. Dengan berpakaian batik dan berpeci hitam, ayah bersemangat mendampingi penerimaan tanda kelulusanku. Ayahlah yang pertama menujukkan kepada warga kampung bahwa anak perempuan juga punya hak yang sama dengan anak laki-laki untuk mengenyam pendidikan tinggi. Tidak hanya sebatas lulus SMA lalu dikawinkan.

Menceritakan kembali bagaimana ayah menghadiahi aku kompor gas, lemari es, dan tempat tidur ketika aku memutuskan mengikuti suami untuk kontrak rumah agar dekat dengan tempat kerja. Aku tidak ingin memberatkan ayah. Tetapi ayah berkeras agar aku menerima itu. 

Lima bulan kemudian aku baru mengetahui, bahwa ternyata barang-barang itu ayah beli dengan cara kredit dan harus membayar bulanan beserta bunganya. Ya Allah, sampai segitukan ayah berkorban untukku. Sampai aku bersuami pun cinta ayah tidak terhenti. Tanpa bermaksud menyinggung perasaan ayah, dengan seijin suami akhirnya aku mengambil alih pembayaran kredit barang-barang itu hingga lunas.   

Ayah,
Aku ingin berkirim surat untukmu. Menanyakan kembali, apakah Allah telah menepati janji mewujudkan amal ibadah dan pengorbanan ayah menjadi teman-teman cahaya yang menerangi ayah hingga hari penghisaban nanti. 
Datanglah seorang laki-laki tampan yang berpakaian bagus dan berbau harum. Ia berkata, “Berbahagialah dengan segala yang membahagiakan Anda. Ini adalah hari kebahagiaan Anda yang telah Allah janjikan.” Orang beriman tersebut bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu tampan sekali.” Ia menjawab, “Aku adalah amal saleh Anda.”
Ayah, 
Aku ingin berkirim surat untukmu. Aku sertakan foto kenangan bersamamu. Foto lama yang aku temukan disela-sela buku harianku. Foto kita bersama Ibu dan adek sedang duduk dikursi yang engkau jual untukku itu. 

Ijinkan aku menebus cinta kasih dan pengorbananmu dulu. Aku kirimkan fadhilah Al-Fatehah dalam sujud dan setiap helaan napasku. Aku juga berjanji akan mengisahkan kembali cinta dan pengorbanan itu kepada cucu-cucumu, bahwa cinta telah menginspirasi seorang ayah melakukan apapun untuk anak dan keluarganya.

Ayah,
Aku menangis karena rindu dan berharap berkumpul bersama ayah bila Allah memanggilku kelak.
   
oooo0oooo


  Kisah Ini diikutkan dalam Kompetisi Blog sprayed-amore Vol. 1 - Cinta Menginspirasi

Sepucuk Surat Untuk Ayah

25 komentar
Tk Al Amien Kadisoka
Juara 1 Kelas Pemula - Drum Band TK Al-Amien Kadisoka 

Beruntung sekali saya ada kesempatan memfasilitasi keinginan si kecil Ayunda. Semula saya khawatir sekali dan takut si kecil kecape'an dan jatuh sakit, karena nyaris hampir setiap hari si kecil aktif mengikuti kegiatan-kegiatan extra kuriruler di sekolahnya ( TK ). Melukis, Menari, Drum Band, Renang, Bina Vocal, Murotal, Sempoa dan Bahasa Inggris. Hari Selasa, Rabu, dan Jumat sore dimanfaatkan untuk sekolah TPA di masjid yang tidak jauh dari rumah.

Oleh sekolahnya, siswa yang mengikuti kegiatan tambahan tersebut  sering diikutkan kompetisi antar sekolah di Yogyakarta. Hal ini yang membuat saya cukup senang. Bukan berapa banyak piala yang telah dikumpulkan si kecil, akan tetapi saya memaknainya sebagai sebuah proses pembelajaran yang penting bagi perkembangannya. Kenapa demikian ?

Sarana Bermain & Memunculkan Bakat
Kegiatan tambahan (Extra Kurikuler) menjadi saranan untuk bermain yang produktif di sore hari sekaligus mengembangkan bakat si kecil. Ini jauh lebih bermanfaat daripada hanya sekedar bermain di rumah karena dalam kegiatan tambahan ini ada tentor yang mengarahkan.

Melatih Kemampuan Intrapersonal dan Interpersonal  
Kegiatan tambahan di sekolah akan melatih kemampuan intra personal anak yakni bagaimana harus bersikap dan beraktifitas sebagai seorang pribadi dan juga bagaimana harus menempatkan diri dan bekerjasama sebagai bagian dari sebuah satu team kecil bersama teman-temannya.

Melatih Anak Berkompetisi
Dengan mengikuti lomba-lomba, maka anak akan mempunyai jiwa kompetisi dan bersaing secara baik untuk sebuah prestasi. Peran Orang tua sangat penting sebagai penyelaras mentalnya agar tidak memunculkan kebiasaan berkompetisi yang curang dan tidak sehat. Peran orang tua juga sangat berpengaruh dan     mendasari pemahaman anak untuk tidak sombong bila sebagai pemenang dan bisa menerima kekalahan bila kalah.


Narsis Ibu-Ibu
Ibunya Ikut Narsis
Bila anak tidak mendapatkan warisan harta benda yang berlimpah, maka cukupilah dengan ilmu dan pendidikan. Itu adalah bekal untuk mencarinya kelak. :)
    

Extra Kurikuler Pacu Prestasi Si Kecil

5 komentar

Ilustrasi Kompas
Credit Photo

Pernahkan kita bertanya, apa sih yang sebenarnya membuat hidup kita berarti di dunia ? Tidak salah apabila jawabannya adalah kekayaan, jabatan, kehormatan dan kesehatan. Itu manusiawi sekali. Sebagai manusia pasti berharap itu semua.

Sedikit berbeda dengan kebanyakan orang, saya masih saja meyakini bahwa hidup menjadi berarti ketika kedua orang tua masih menemani hari-hari saya. Bisa mengabdi dan membahagiakannya. Rasanya itulah yang membuat saya berharga sebagai manusia. Sayang sekali, kesadaran itu muncul terlambat. Saya begitu menyesal, sangat menyesal !    

Ayah ! Seminggu sebelum waktu yang telah ditetapkan-Nya, saya masih melihat senyum diantara guratan-guratan wajah yang sudah menua. seperti biasa, saya menanyakan bagaimana kesehatan ayah. Ayah tersenyum seolah melupakan rasa sakit yang dideritanya. Bahkan, meminta dipijat kaki dan tangannya. Juga minta dicebokin.  

Sudah sekian lama ayah sakit. Sebelum sampai parah, masih saja dipaksakan untuk bekerja. Berbagai macam komplikasi penyakit telah membuat ayah semakin lemah. Hypertensi, gula darah dan tumor hati begitu kata dokter. Saya tidak bisa langsung menjaga dan merawat ayah karena harus ikut suami. Adek dan ibulah yang merawat. Seminggu sekali saya sempatkan menengok beliau. 

Sebagai seorang anak, saya inginnya berbakti. Saya sering membujuk ayah tinggal bersama. Tetapi ayah lebih memilih untuk tinggal dirumah sendiri. Demi Allah, saya dan suami sesungguhnya senang bila ayah mengiyakan ajakan saya itu. 

Empat hari sebelum kembali ke haribaan-Nya, ayah mengunjungiku. Ayah minta di masakan sayur lodeh. Saya melihat ayah begitu lahap menyantap sayur lodeh di temani cucunya, Arya, yang kala itu masih berumur 4 tahun. Saya menyembunyikan air mataku karena rasa senang dikunjungi ayah. Tak disangka itulah kunjungan terakhir ayah untukku. 

Kamis siang jam 12.00, adek menelponku, "Mbak, ayah kritis !". Ya Allah, aku menjerit dan menangis seketika. Saya langsung menelpon suami minta ijin untuk sesegera menjenguk ayah sendirian dan suami berangkat dari tempat kerjanya. 

Perjalanan sampai ke rumah Ayah membutuhkan waktu hampir satu jam dan harus berpindah mobil omprengan dua kali. Waktu serasa berjalan melambat, sangat lambat. Saya tidak mungkin memaksa sopir menuruti kehendakku dan mengorbankan penumpang-penumpang lain.  

Saya berdoa sebisa-bisanya sepanjang perjalanan yang serasa lambat itu. Ya Allah, tunda dulu engkau mengambil ayahku hingga aku bersimpuh dikakinya dan meminta maaf atas segala salah dan khilafku selagi ayah masih bisa mendengar. Itu pintaku ! 

Setengah jam berlalu, Selulerku kembali berbunyi lagi. "Mbak, Ayah wis ora ono ( Ayah sudah tidak Ada)", Kata adekku diujung telpon. Aku menangis tertahan diantara penumpang omprengan yang berdempet-dempetan. Sesampainya dirumah, saya langsung memeluk jasad ayah dan menangis sejadi-jadinya. Mohon ampun atas segala kesalahan dan kekhilafan kepada beliau. Saya sadar bahwa selama ini belum pernah bisa membahagiakannya. Walaupun tidak tidak sekelipun ayah memintanya. 

Sepertinya Allah telah memberikan firasat sebelumnya. Sayang sekali, karena kedangkalan pemahaman saya tidak bisa menangkapnya secara sempurna. Permintaan ayah untuk dipijat, dicebokin dan dimasakkan sayur lodeh menjadi permintaan terakhirnya kepada saya. Seolah ayah mau bilang, "Ayah sudah menerima pengabdian dan balas budimu sebagai anak, nduk. Iklaskan ayah." Semoga seperti itu adanya.

Saya seperti tidak berharga. Karena belum bisa membuat ayah bahagia. Bahkan di saat ajal menjemput pun tidak disampingnya. Andai saja Allah menginjinkan untuk meminta satu permintaan, maka saya pasti meminta Allah mengembalikan ayah dan kesehatannya. Walaupun nyawaku sebagai tebusannya. Saya rela !     

#MenjelangMendakKeduaAlmAyah
#Jangansiasiakanorangtuakitaselagibisa


Permintaan Terakhir Seorang Ayah

8 komentar

Cinta Seorang Ayah
Ayunda Bermain Dengan Papanya

Papa begitu marah ketika mama bilang hamil lagi ketika itu. Mama menyadari, itu karena Papa begitu sayang dengan Si Sulung Arya. Hingga Papa tidak ingin membagi cinta papa ke Arya dengan yang lain.  

Bahkan ketika putri kita lahir pun eyang kakungnya yang memberi nama, Ayunda, bukan papa! Sampai Ayunda berumur 3 tahun, Papa masih tak acuh dengannya. Demi Tuhan mama tidak menyesal, Pa. Mama lakukan karena mama cinta Arya dan Papa. Mama tidak ingin Arya tumbuh tanpa saudara dan kita kesepian di hari tua. 

Suatu ketika, Papa menangis dan memeluk erat saat Ayunda tergolek lunglai di rumah sakit dengan selang infus di tangan. Sejak itu, setiap saat yang papa tanyakan hanyalah Si kecil Ayunda.  

Foto ini kita buat seminggu setelah Ayunda sembuh. Monumental sekali, bukan?. Ekspresi cinta dan ketulusan seorang ayah kepada putrinya tergambar di sana.   


 photo lombablogcintamonumental_zps3ade6cd6.jpg
“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS” 

Ketulusan Cinta Seorang Ayah

23 komentar

ilustrasi cinta
Credit
Dulu waktu di kampus, banyak mahasiswi cantik yang mestinya bisa engkau pacari. Banyak juga adek-adek tingkat yang manis-manis dan mudah engkau dekati lalu kau miliki. Tapi kenapa engkau memilih aku, mahasiswi yang biasa saja yang mungkin tidak masuk hitungan untuk menjadi kekasihmu.

Aku nyaris tak percaya, ketika engkau menggandengku erat-erat, menyusuri jalan kampus Fakultas Sospol Universitas Jember. Jalan itu seperti panjang sekali, ratusan meter dari perpustakaan rektorat. Kita kecapaian, akhirnya duduk di sebuah bangku batu tepat di bawah pohon cemara yang berdaun jarang. Disekitar nampak remang dalam cahaya bulan malam ke 26 dibulan Agustus, 17 tahun lalu.

Aku hanya terdiam. Sepertinya merasa bahagia ketika engkau masih menggenggam tanganku dan mengatakan,"Dik, aku sepertinya jatuh cinta kepadamu. Maukah engkau menjadi pacarku?". Oh, aku malu saat itu. Tetapi aku yakin engkau tahu jawabanku karena aku tidak berusaha melepas peganganmu.

Sedetik aku seperti terbuai dengan kata-kata itu, setelahnya itu engkau mencium bibirku. Sejenak kemudian engkau bilang kepalamu pusing, mungkin karena lipstiku. Sumpah! Itu membuatku malu karena aku tidak pernah melakukan hal itu. Itu yang pertama kali. Tapi apa dayaku, aku terlanjur terbuai bahagia, anganku melambung tinggi seperti anai-anai yang keluar dari sarangnya. Terbang berpencar kesana kemari.

Lalu, hari-hari kita lalui bersama setelah itu. Benar-benar tak terpisahkan melewati suka dan duka. Pernah engkau mengantar nasi bungkus dengan lauk pindang goreng ke kostku yang berjarak 3 km dari kostmu. Lalu aku tanya, kenapa jalan kaki kok tidak naik bis kampus? Aku kaget sekali ketika engkau bilang tidak pegang uang. Lalu aku tanya, lho, nasinya dibeli pakai apa? Aku juga terhenyak mendengar jawabmu. Engkau bilang hutang di warung depan kost. Oh, sampai segitu pengorbananmu, hanya demi mengantar sebungkus nasi engkau melakukan itu. Aku menangis sesenggukan dikamar sepulangmu.

Terima kasih. Nasi bungkus itu menolong laparku yang sedari siang belum terisi selain air putih dan jambu biji yang ada di depan kost. Kiranya engkau tahu, akupun saat itu tidak memegang uang barang serupiahpun. Wesel dari ibu tak kunjung datang.

Banyak cerita yang telah kita buat bersama. Tak terhitung juga seberapa jauh kita melewati jalan-jalan untuk sekedar menghibur diri di alun-alun kota Jember, melihat lalu lalang mobil dimalam hari. Ataupun, jalan-jalan di pusat perbelanjaan melihat tas, baju, kaos yang juga tidak pernah terbeli.

Aku tahu kemampuanmu dan aku tak memaksakan apapun kehedakku. Aku cukup bahagia, ketika engkau belikan vas bunga seharga sepuluh ribu di penjual emperan depan Mall Sumber Mas. Kau isi vas itu dengan setangkai edelweis kering, oleh-oleh teman Mapala dari Gunung Bromo. Itu hadiah ulang tahunku.

Tak tergambarkan lagi betapa banyak peristiwa yang kita lalui berdua. Hingga engkau menepati janjimu. Tepat ditahun dengan angka kembar, 2002, Engkau menikahiku ! Hingga tak terasa sudah 12 tahun sudah kisah cinta itu.

Aku sering terharu bila mengingatnya. Kelak akan aku ceritakan perjalanan cinta itu kepada putra-putri kita ketika dewasa. Bagaimana dulu ayah ibunya bertemu dan menjalani hidup. Agar mereka semakin bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya.

Suamiku ! Aku ingin 1000 tahun lagi bersamamu !

 


Cinta Untuk 1000 Tahun lagi

0 komentar

Pahlawan dalam Keluarga
Siapa yang Photo Hayo?

Kelak jalanan itu akan menjadi saksi. Setiap tikungan yang terlewati menjadi sejarah. Jalan dan tikungan yang terlewati dalam menjalani profesi sebagai "tukang ojek" mengantar buah hati  ke sekolahnya. Profesi baru semenjak anak-anak memasuki dunia sekolah, selain profesi tetap sebagai ibu rumah tangga. Sebuah profesi yang penting dalam perkembangan si buah hati. 

Insya Allah, 20 Tahun lagi dari hari ini, jalanan, tikungan dan apapun yang ada disitu akan berkata "selamat ya, atas keberhasilan dan kesuksesan si buah hati"  Ah, sepertinya itu yang menjadi "bayaran" setiap tukang ojek seperti saya. Hem,...masih beruntung sepertinya bagi anak-anak jaman sekarang, dibandingkan masa-masa bapak-ibunya dulu, dimana pergi ke sekolah harus jalan kaki berkilo-kilo. Atau naik angkutan "bis tuyul" bagi yang uang sakunya cukup. 

Saya menikmati sekali kesempatan ini dimana tidak semua ibu mampu dan mau melakukannya. Saya tidak terjebak pada pragmatisme hidup sebagai wanita karier dimana karena kesibukan harus menyerahkan hidup anak dan keluarga pada sosok pembantu. Hidup cuman sekali dan paling lama mungkin 100 tahun. Jadi, saya ingin menjadi sosok ibu yang sejati. Menjadi pahlawan bagi keluarga. Itu saja. !

Saya menunggu, kelak putra-putriku akan mengajaku melewati jalan itu kembali dengan suka cita. Dan akan aku ceritakan kembali bagaimana saat dulu untuknya.

  

Tukang Ojek Ini Pahlawan Bagi Keluarga

3 komentar

Ayunda Berjilbab


Tiada kata yang dapat mewakili kebahagiaan ini, saudara. Selain memanjatkan Puji syukur, Alkhamdulillah bahwasannya apa yang terjadi itu berkat rahmat-Nya semata. Ayunda yang masih duduk di TK Nol besar akhirnya telah mengkatamkan Al-qur'an pada hari minggu malam senin (12/4). 

Bagi sebagian orang ini mungkin menjadi hal yang biasa saja. Akan tetapi tidak bagi saya dan keluarga. Kenapa demikian ? Karena pada saat saya seumuran Ayunda tidak menemui pengalaman seperti ini. Bahkan belum bisa mengkhatamkan Al-qur'an saat itu. 

"Pa, adek udah khatam Al-Qur'an"  kata Ayunda. Disamping Papanya yang masih bergelut dengan komputer. Aku peluk, aku sayang-sayang, aku cium kedua pipinya. 

"Selamat ya sayang, minta hadiah apa, sayang" Tawarku yang mencoba menyenangkan hatinya.

"Entar dibeliin crayon sama buku gambar aja ya, Pa" Katanya manja. Permintaan yang begitu sederhana yang membuat saya bangga. 

"Adek boleh telpon utik ya, pa?" sambung Ayunda. Dibantu mamanya Ayunda pun meraih gagang telpon dan mulai cerita ini dan itu kepada utiknya yang ada di Brebes.

Terdengar permintaan, bahwa Ayunda ingin utiknya ke Jogya saat wisudanya nanti, karena ingin utiknya mendampingi penerimaan pialanya  Oh, sekali lagi sebuah permintaan yang sederhana. 

"Yeee....benar ya utik, nanti mbak meilin di ajak." Rayu Ayunda lagi. Meilin adalah putri paling buncit dari kakak istri. Dan Ayunda memang sayang sama Meilin. 

Papa dan mama bangga padamu Cah Ayu. Semoga kelak engkau menjadi anak yang Sholehah, tetap dalam jalan Iman dan Islam, berhasil kehidupanmu, selalu di Ridloi Allah dan Selamat dalam kehidupuan dunia-akhiratmu. Amien.

 Kebahagiaan orang tua itu Sederhana, Bila anak berhasil dalam hidupnya. Patuh dan Taat, serta tidak memaksakan diri diluar kemampuan orang tuannya.   

Inspired by Papa..

Akhirnya Khatam Al-Qur'an

0 komentar

Kayla Ayunda Narapramesti

Siapakah Ayunda? Gadis kecil berparas cantik ini masih belajar di bangku Taman Kanak-Kanak. TK Al-Amien Kadisoka Kalasan Sleman Yogyakarta. Tahun ini adalah tahun terakhir baginya, karena Insya Allah tahun depan sudah lulus dan melanjutkan ke Sekolah Dasar.

Satu hal yang membanggakan dari Ayunda adalah dia menjadi idola dan siswa paling favorite di sekolahnya. Banyak guru yang bilang kalau Ayunda itu anak yang "ngemong" sama teman-temannya. Suka menolong dan melindungi adik kelasnya. Ayunda sangat rajin kalau disekolahnya. Sepertinya berbeda bila dirumah. Sifat kekanak-kanakannya terlihat sekali kalau dirumah. Bertengkar dengan kakaknya, rebutan remote TV, menangis dan manja menjadikan rumah seru dan ramai. Satu hal yang pasti akan dirindukan kelak bila mereka sudah menginjak dewasa.

Selepas magrib, ayunda belajar mengaji sama mamanya. Tak terasa sekarang sudah hampir khatam. Insya Allah Juz 30 akan diselesaikannya dalam minggu ini. Ayunda ingin mendapatkan dua piala dalam wisuda TK nantinya, yakni sebagai siswa berprestasi terbaik dan salah satu siswa yang telah khatam al-Qur'an.

Yah, Kayla Ayunda Narapramesti, begitu dulu kami menamainya. Sebuah nama perpaduan jawa dan sanksekerta yang berarti seorang ratu perempuan cantik dan berbudi luhur. Pelipur lara dan pelengkap kehidupan kami.

Dicopy dari om-rhomairamin.blogspot.com

Ini Tentang Ayunda

0 komentar

juara 1 hafalan al quran


{وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى}
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” 
(QS an-Najm:39).

Dua orang MC lomba yang cantik dengan jilbabnya berdiri ditengah panggung (Semoga Istriku gak cemburu aku memuji Wanita lain). Uh..suaranya begitu merdu di telinga. "Adik-adik, saatnya kakak umumkan lomba ya." Katanya saat memandu acara kembali setelah terpotong oleh aksi pentas anak-anak TK yang polos dan lucu.

Saya bergegas mendekat panggung melewati kumpulan orang tua murid yang menunggu hasil jerih payah putra-putrinya mengikuti lomba. Wajah istriku yang duduk ngengsot ditikar depan panggung kulihat sedikit tegang. Entah apa yang dipikirkannya. Sepertinya berharap sekali Ayunda menang. Maklum saja dialah yang dengan sabar mengajari dan membimbing Ayunda belajar setiap harinya. Padahal saya selalu menasehatinya, bahwa dalam sebuah kompetisi harus siap menang juga harus menyiapkan mental kalau kalah. Biar 'gak stress seperti para caleg yang gagal itu. :)

Sejurus kemudian, dua MC cantik tersebut membacakan hasil lomba, diawali lomba yang pertama yakni lomba Wudhlu. Kebetulan sekali setiap peserta hanya boleh mengikuti satu lomba saja jadi Ayunda pun terpaksa mengikuti aturan tersebut, walaupun maunya ingin mengikuti semua lomba yang diadakan. Namanya juga anak-anak, kan.

Berturut-turut kemudian adalah pengumuman lomba mengancingkan baju dan puzzle. Setelah rangkaian acara penyerahan hadiah kedua lomba tersebut berakhir, tiba saatnya pengumuman lomba hafalan surat pendek Al-Qur'an. Aku melirik ke tempat istriku duduk. Wajahnya terlihat semakin tegang. Dag...dig...duk begitu detak jantungnya barangkali. Gak ada senyum. Wajahnya kaku memandang lurus kedepan panggung. (Kecuali kejatuhan uang satu gepok dipangkuannya barangkali baru bisa senyum kaleeeee!).

"Juara ke-3, dengan nilai 255 Jatuh kepada nomor undian 5". Kata MC. Duerrrrr.....Istriku semakin tegang dan bertambah tegang kelihatanya. Wajahnya berubah rona. Aku tersenyum geli melihatnya. 

"Selanjutnya, Juara ke-2, dengan nilai 265, adalah nomor undian 6". teriak MC lagi. Jedoooooooor...Posisi duduk istriku sedikit berubah. Dengan tangan dipangkuan dia menghela napas panjang. Kepala sedikit mengongak ke atas. Bibirnya bergerak-gerak, komat-kamit seperti mbah dukun baca mantra.  Sepertinya sedang berdoa. Entah apa yang dibacanya, apakah doa mau makan atau doa mau tidur, siapa yang tahu he..he...? 

"Dan.....Juara pertama.....dengan nilai 305 jatuh kepada nomor undian 7". Beeeetttttttt....Lega sudah! Istriku bisa tersenyum lebar dan tanpa sadar kedua tangannya mengepal keatas sambil bilang Yeeeeeeee Lumayan keras, hingga seorang ibu yang disampingnya terkaget-kaget. 

Ya, Ayunda tampil sebagai Juara Pertama lomba hafalan surat pendek Al-Qur'an untuk yang ke-sekian kalinya. Kali ini dia berhasil menyingkirkan 20 orang peserta perwakilan dari TK-TK terbaik di Yogyakarta. Ini merupakan piala yang ke-13 yang didapatkannya. 

Selamat ya Mam, telah menghantarkan Ayunda kembali jadi juara ! 

Dicopy dari om-rhomairamin.blogspot.com


Kisah Ibu dan Anak - Juara Lomba Hafalan Surat Pendek Al-Qur'an

0 komentar